Inovasi Hijau SMAN 1 Pare: Dari Lele dalam Galon hingga Ayam Kampung, Cetak Generasi Mandiri Pangan

Kediri, MR – Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Pare, Kabupaten Kediri, terus menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peduli terhadap lingkungan dan kemandirian komunitasi. Di bawah komando kepala sekolah, H. Sukamto, lembaga pendidikan terkemuka ini sukses meluncurkan dan melaksanakan sebuah program studi inovatif yang diberi nama Studi Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP). Senin, (05/10/26).

Program SIKAP dirancang sebagai langkah nyata sekolah dalam merespons isu ketahanan pangan global dari ruang lingkup terkini, yakni lingkungan sekolah. Memanfaatkan sisa lahan dan sudut-sudut kosong di area sekolah, H. Sukamto bersama para guru dan siswa berhasil menyulap lahan terbatas tersebut menjadi area produktif yang bernilai edukasi tinggi.
Tentu beliau menyatakan Program SIKAP ini bukan sekadar tugas praktik bagi siswa, melainkan sebuah gerakan pembiasaan untuk membangun kemandirian pangan sejak dini. Ingin menanamkan pola pikir bahwa keterbatasan lahan bukanlah penghalang untuk tetap produktif.

Pelaksanaan program inovatif ini berfokus pada tiga pilar pemanfaatan lahan sekolahan, di antaranya. Budidaya Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Menggunakan Pot
Untuk mengoptimalkan ruang di sepanjang koridor dan sudut halaman sekolah, SMAN 1 Pare memilih metode penanaman dalam pot. Berbagai jenis tanaman rimpang seperti jahe, kunyit, temulawak, hingga tanaman herbal lainnya tumbuh subur di pot-pot yang dirawat langsung oleh para siswa. Selain sebagai penghijauan, kebun TOGA vertikal dan portabel ini berfungsi sebagai apotek hidup sekolah sekaligus laboratorium biologi alami bagi siswa.

Untuk ini inovasi paling unik yang menyita perhatian adalah pemanfaatan galon bekas sebagai media budidaya ikan lele. Menerapkan konsep aquaponics sederhana, botol galon air mineral dimodifikasi sedemikian rupa untuk menjadi tempat pembesaran bibit lele. Metode ini membuktikan kepada para siswa bahwa protein hewani dapat diproduksi secara mandiri di rumah atau sekolah tanpa memerlukan kolam tanah atau terpal yang luas. Untuk melengkapi ekosistem ketahanan pangan sekolah, SMAN 1 Pare juga membuat area khusus untuk budidaya ayam kampung. Sektor peternakan ini diintegrasikan agar siswa memahami siklus pakan dan pengelolaan limbah organik. Kotoran ayam dikelola kembali sebagai pupuk bagi tanaman TOGA, sementara sisa sayuran dari kebun dimanfaatkan sebagai pakan alternatif.

Melalui kepemimpinan visioner H. Sukamto, SMAN 1 Pare berhasil mengintegrasikan program SIKAP ke dalam pembelajaran berbasis proyek yang selaras dengan Kurikulum Merdeka. Para siswa dilatih bertanggung jawab penuh, mulai dari tahap penyemaian benih, pemberian pakan terjadwal, hingga masa panen.

Program SIKAP diharapkan tidak berhenti di dalam pagar sekolah saja. Pihak sekolah menargetkan agar keterampilan praktis yang didapatkan para siswa di SMAN 1 Pare dapat diterapkan di lingkungan rumah masing-masing, sehingga mampu membawa dampak positif yang lebih luas bagi ketahanan pangan keluarga di wilayah Kediri dan sekitarnya. (Ag).

Related posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.